Epilepsi: Kenali Jenis dan Faktor Risikonya

20 April 2026 3 min read

Oleh: dr. Eric Tanoto, Sp.N

pemeriksaan epilepsi

Epilepsi adalah salah satu gangguan pada otak yang menyebabkan penderitanya mengalami kejang secara berulang. Penyakit ini tidak menular tetapi membutuhkan penanganan serius karena dapat menyebabkan dampak jangka panjang. Cari tahu informasi lebih lengkap mengenai epilepsi di sini!

Jenis Kejang Epilepsi

Epilepsi menyebabkan penderitanya mengalami kejang, tetapi tidak semua kejang termasuk ke dalam kategori epilepsi. Jika kejang hanya terjadi satu kali karena adanya pemicu tertentu, maka kondisi ini tidak disebut sebagai epilepsi. Namun, ketika kejang terjadi secara berulang dan tanpa adanya pemicu ataupun ada lesi di otak, maka baru disebut sebagai epilepsi.

Kejang yang terjadi pada epilepsi adalah dampak dari pelepasan muatan listrik berlebih pada sel otak. Hal inilah yang menyebabkan bagian tubuh hingga tingkat keparahan kejang yang dialami bisa berbeda pada setiap penderita epilepsi. Begitu pula dengan periode serta rentang waktu kejang yang dialami.

Berdasarkan kondisi pasien, 2017 ILAE Classification of the Epilepsies membagi jenis kejang epilepsi ke dalam 3 kategori, yaitu:

  • Kejang Onset Umum
    Kejang yang memengaruhi sekelompok sel di kedua sisi otak secara bersamaan. Kejang ini disertai dengan kehilangan kesadaran serta gerakan tubuh yang tidak terkendali.
  • Kejang Onset Fokal
    Istilah fokal digunakan untuk menggantikan “parsial” pada klasifikasi sebelumnya. Kejang fokal dapat terjadi pada salah satu area di otak maupun sekelompok sel pada salah satu sisi otak. Namun, kejang ini juga bisa menyebar dan memengaruhi sisi otak lainnya.

    Kejang ini dapat terbagi menjadi beberapa, yaitu:

    • Kejang sadar onset fokal: ketika pasien masih dalam kondisi sadar selama kejang berlangsung.
    • Kesadaran terganggu onset fokal: ketika pasien mengalami gangguan kesadaran selama kejang berlangsung.
  • Kejang dengan Onset Tidak Diketahui
    Kejang disebut sebagai kejang onset tidak diketahui ketika belum diketahui secara pasti awal permulaan kejang. Tidak hanya berdasarkan pada bagian otak terpengaruh saja, melainkan juga ketika kejang terjadi di malam hari saat pasien sedang sendirian dan tidak ada orang yang mengetahui saat kejang berlangsung.

Namun, setelah kejang mendapatkan berbagai informasi mengenai kejang yang dialami, maka kejang yang terjadi bisa berubah ke dalam kategori lainnya, antara kejang onset umum atau kejang onset fokal.

Penyebab dan Faktor Risiko Epilepsi

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan atau meningkatkan risiko seseorang mengalami epilepsi, di antaranya yaitu:

  • Infeksi. Beberapa jenis infeksi yang terjadi pada otak bisa menyebabkan terjadinya kejang epilepsi, di antaranya yaitu meningitis, malaria serebral, dan toksoplasmosis.
  • Autoimun. Imunitas atau sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus, dan zat berbahaya. Namun, gangguan pada imunitas tubuh juga bisa menyebabkan terjadinya autoimun epilepsi.
  • Genetik. Seseorang dengan keluarga kandung yang memiliki riwayat epilepsi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami epilepsi juga.
  • Metabolisme tubuh. Sistem metabolisme akan mengolah nutrisi dalam makanan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Gangguan metabolisme akan menyebabkan masalah pada berbagai fungsi tubuh dan bisa menyebabkan terjadinya kejang.
  • Struktur otak. Adanya masalah pada struktur otak dapat menyebabkan terjadinya kejang epilepsi. Hal ini dapat terlihat melalui pemindaian menggunakan MRI.
  • Riwayat penyakit. Beberapa penyakit yang melibatkan saraf otak juga bisa menyebabkan terjadinya epilepsi, salah satunya yaitu stroke yang dikenal dengan epilepsi pascastroke.

Gejala Epilepsi

Kejang yang dialami oleh pasien epilepsi berbeda satu sama lain, tergantung pada jenisnya. Namun, gejala umumnya yang terjadi saat kejang adalah:

  • Otot kaku
  • Tubuh kaku atau lemas
  • Tidak bisa mengatur gerakan tubuh
  • Kehilangan kendali pada saluran kemih (buang air kecil tanpa disadari)
  • Tiba-tiba terjatuh ke lantai

Sebelum mengalami serangan kejang pada pasien kejang onset fokal, terkadang merasakan beberapa gejala awal yang disebut dengan aura. Beberapa aura yang bisa dialami yaitu:

  • Muncul rasa takut
  • Merasakan déjà vu
  • Merasa ada bau atau aroma tertentu
  • Kebingungan dan melakukan hal tanpa disadari
  • Kehilangan keseimbangan
  • Mengalami halusinasi
  • Rasa tidak nyaman pada perut

Pengobatan dan Perawatan Epilepsi

Sayangnya, hingga saat ini belum ada jenis pengobatan apa pun yang bisa menyembuhkan epilepsi secara penuh. Meskipun begitu, pengobatan dan perawatan yang tepat dapat mengurangi serangan kejang yang dialami dan meringankan gejalanya sampai meningkatkan kualitas hidup.

Beberapa tindakan medis yang umum dilakukan pada penderita epilepsi yaitu:

  • Penggunaan obat antikejang
  • Perubahan gaya hidup, seperti pola makan
  • Melalui tindakan operasi
  • Penggunaan alat medis untuk mengubah sistem kerja otak

Epilepsi adalah penyakit yang harus segera mendapatkan penanganan secara tepat, karena dapat menyebabkan berbagai dampak pada otak, terutama jika kejang terjadi secara berulang. Jika Anda atau keluarga ada yang menunjukkan gejala epilepsi, segera periksakan diri ke dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Premier Surabaya. Sementara untuk Anda yang mengalami epilepsi pascastroke, dapat mengunjungi layanan unggulan Stroke Unit kami. Penanganan yang tepat dapat membantu mengendalikan kejang yang dialami dan mencegah terjadinya komplikasi jangka panjang akibat epilepsi.

 

Hubungi Kami

Untuk informasi & buat janji temu Dokter

Tags
dr. Eric Tanoto, Sp.N
Saraf Lihat jadwal
Loading data...